Articles

The Concept of Laras in the Creation of the “Salisir” Dance Work

Authors

  • Putri Adellya Azahra Institut Seni Indonesia Surakarta Author
  • Matheus Wasi Bantolo Institut Seni Indonesia Surakarta Author

Keywords

Dance Laras Salisir

Abstract

Laras is a Javanese concept of balance attained through conscious awareness (eling) of the body, feeling, movement, and the surrounding world. This article examines the operation of laras as the philosophical basis and structural-choreographic principle of the dance work “Salisir”. The artistic-research data comprise rehearsal notes, interviews with artists and wayang practitioners, visual documentation, artistic-team discussions, supervisory feedback, and the performance presented on 9 January 2026. The data were examined through six dialogical stages: identifying phenomena, reviewing references, formulating concepts and visualization, organizing artistic collaborators, embodiment, and confirmation. The findings indicate that laras developed through three formulations. The initial focus on household conflict shifted toward the empirical bodily histories of the two creators and subsequently centered on the Sadewa-Bathari Durga relationship in Ruwatan Sudamala. This development produced a four-scene duet dance drama through contrasting masks, cross-traditional movement vocabularies, vocal dialogue, music, and stage space. Laras therefore operates as a measured negotiation of difference that directs the work from conflict toward awareness and balance.

References

Apriliani, U., & Wilujeng, B. (2020). Bentuk dan makna pada tata rias busana serta aksesoris Tari Remo Jombangan. Jurnal Tata Rias, 9(1), 97-106.

Aridhona, J. (2017). Hubungan antara kecerdasan spiritual dan kematangan emosi dengan penyesuaian diri remaja. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 9(3), 224-233.

Bantolo, M. W. (2024). Nembang Beksa: Mencipta laras, membongkar bugar. ISI Press.

Endraswara, S. (2011). Metode pembelajaran drama: Apresiasi, ekspresi, dan pengkajian. CAPS.

Fahrudi, E. (2023). Interaksi sosial makna simbolik tradisi ruwatan masyarakat Jawa. Al-Kamal: Jurnal Kajian Islam, 3(2), 119-126.

Fatimah, A. N., Shohib, M. W., & Chehdimae, H. (2025). Pengaruh kesadaran diri, kestabilan emosi, dan lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa di SMA Muhammadiyah. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 10(2), 1395-1401.

Febriansyah, R., & Maay, K. K. (2024). Analisis gambaran umum karakteristik perundungan antar siswa sekolah dasar di Manokwari. Seminar Nasional Pendidikan Muhammadiyah Manokwari, 2(1), 23-31.

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence. Bantam Books.

Habil, F. I. (2024). Peran korban, pelaku, dan pihak lain dalam perspektif keadilan restoratif dan sistem peradilan pidana. Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 5(10).

Hadi, Y. S. (2012). Koreografi: Bentuk-teknik-isi. Cipta Media bekerja sama dengan Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Harymawan, R. M. A. (1993). Dramaturgi. PT Remaja Rosdakarya.

Hawkins, A. M. (2003). Bergerak menurut kata hati: Metoda baru dalam menciptakan tari (I W. Dibia, Penerj.). Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Jamilah, J., Yatim, H., Padalia, A., & Linda, J. (2022). Inau Opusulenta: Koreografi yang terilhami dari tari tradisional Ummusulen masyarakat Suku Balantak di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Joged, 20(2), 103-115. https://doi.org/10.24821/joged.v20i2.8198

Kasanova, R. (2019). Religi ruwat dalam Kidung Sudamala. SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(2), 1-12.

Murgiyanto, S. (1983). Koreografi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Permana, T. C. I. (2016). Model penyelesaian perselisihan partai politik secara internal maupun eksternal. Jurnal Hukum dan Peradilan, 5(1), 35-52.

Prawitasari, J. E. (1998). Kecerdasan emosi. Buletin Psikologi, 6(1), 21-31.

Reumi, T. A. S. (2019). School bullying ditinjau dari sudut pandang hukum: Dampak dan penanganan. Jurnal Pengabdian Papua, 3(3), 91-95.

Sedyawati, E., Parani, Y., Murgiyanto, S., Soedarsono,

Rohkyatmo, H. A., Suharto, B., & Sukidjo. (1986). Pengetahuan elementer tari dan beberapa masalah tari. Direktorat Kesenian, Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soedarsono. (1978). Pengantar pengetahuan dan komposisi tari. Akademi Seni Tari Indonesia.

Ubaidi, M. A., Sari, R., Sakdiyahi, H., Jinan, N. J., & Mu’alimin, M. A. (2024). Sumber gejala dan penyebab konflik. Wawasan: Jurnal Ilmu Manajemen, Ekonomi dan Kewirausahaan, 2(1), 273-286.

Utami, A. V., & Murwani, A. E. S. (2025). Peran komunikasi antarbudaya dalam mengatasi konflik sosial di masyarakat multikultural: Studi pada masyarakat Kecamatan Sukakarya Kabupaten Musi Rawas. Jurnal Khabar: Komunikasi dan Penyiaran Islam, 7(1), 235-245.

Wendy, H. S. (2014). Dramaturgi teater rakyat Randai di Minangkabau. Jurnal Kajian Seni, 1(1), 32-47.

Widiana, I. W. (2019). Filsafat Cina: Lao Tse Yin-Yang kaitannya dengan Tri Hita Karana sebagai sebuah pandangan alternatif manusia terhadap pendidikan alam. Jurnal Filsafat Indonesia, 2(3), 110-123.

Yuwanto, L. (2023). Suwung: Pencarian kesempurnaan hidup masyarakat Jawa. Jurnal Budaya Nusantara, 6(1), 221-227.